Belajar Menerima Pendapat

Oleh: Ari Budi Kurnianto

(Pengurus MUI Kecamatan Pancoran Mas Kota Depok)

MUIPancoranmas.com- Sudah menjadi sebuah tradisi bahwa dalam sebuah lembaga, instansi ataupun organisasi, seorang pemimpin menpunyai hak untuk menentukan sebuah kebijakan atau kita kenal dengan hak prerogatif, kearah mana organisasi itu akan dibawa, juga misalkan dalam penentuan strategi yang terkait dengan suksesi kebijakan lembaga.

Disisi lain seorang pemimpin juga dihadapkan dengan ide-ide yang muncul dari orang-orang yang dipimpinnya, disaat inilah kemampuan seorang pemimpin diuji dalam mengelola sebuah lembaga, tidak sedikit sebuah lembaga tergoncang dikarenakan telat dalam merespon ide-ide yang berkembang. Padahal ia tahu kalo misalnya ide itu bisa memajukan lembaga tersebut.

Rasululloh Sholalluhu ‘alaihi wa sallam sosok manusia mulia yang segala perkataan jika ia meminta kepada Alloh maka Ia akan mengabulkannya. Begitu pula dalam menentukan tempat dalam yang di gunakan sebagai ‘base camp’ pasukan pada perang badar, bisa saja ia kukuhkan pendirianya dikala Hubab bin al mundzir seorang sahabat anshor mengatakan, “wahai Rasululloh, bagaimana pendapatmu tentang keputusan berhenti di tempat ini? Apakah ini tempat berhenti yang ditentukan Alloh kepada engkau? Jika begitu keadaannya, maka tidak ada pilihan bagi kami untuk maju atau mundur dari tempat ini. Ataukah ini sekedar pendapat, siasat dan taktik perang?
Beliau menjawab, “Ini adalah pendapatku, siasat dan taktik perang. ”
Hubab berkata, “Wahai Rasululloh, menurutku tidak tepat jika kita berhenti di sini, Pindahkanlah orang-orang ke tempat yang lebih dekat lagi dengan mata air daripada mereka (orang-orang musyrik mekkah). Kita berhenti ditempat itu dan kita timbun kolam-kolam di belakang mereka, lalu kita buat kolam yang kita isi hingga penuh. Setelah kita berperang menghadapi mereka. Kita bisa minum dan mereka tidak bisa.
Beliau menjawab, “Engkau telah menyampaikan pendapat yang jitu.”

Sebenarnya bisa saja Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wa sallam tetap memegang pendapatnya, atau meminta kepada Alloh untuk diberikan petunjuk, namun disini justru terlihat sosok kepemimpin yang terbuka menerima pendapat orang lain, karena dirasakan begitu besar maslahatnya.

Sebenarnya tidak hanya berada dalam organisasi dimana pimpinan dengan bawahan, namun dalam interaksi antara bawahan dengan bawahan, proses interaksi yang begitu intens akan menghasilkan output yang berkualitas jika tertanam didalamnya ide-ide yang cemerlang.

Dimana sebuah kepemimpinan yang di bungkus dengan akhkakul karimah akan membuahkan hasil yang sangat luar biasa, sesorang punya power ataupun kekuasaan, yang seharusnya dengan itu ia bisa mengambil segala keputusan, namun ketika ide-ide cemerlang lain hadir dihadapannya maka dengan legowo ia bisa mengesampingkan apa yang ada dalam fikirannya.

Yakinlah ketika sebuah pendapat itu tidak diterima, dan mendapatkan pendapat orang lain lebih baik, hal itu tidak menjadi faktor seseorang akan menjadi hina, justru dengan menerima pendapat orang lain yang lebih baik, akan menjadikan seseorang itu akan di muliakan Alloh.

Allohu Ta’ala a’lam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *