Stop “Mengkencurkan” Anak !, Jika Tidak Ingin Pribadinya Hancur

Oleh : Aa Fajar

(Guru TK Islam PB Soedirman Cijantung Jakarta Timur)

 

وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْتَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللهَ وَلْيَقُولُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا

Artinya: Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar. (An-Nisa/4:9)

Setiap orang tua pastinya ingin anak nya tumbuh menjadi pribadi yang berani menyampaikan dan mempertahankan kebenaran  dan  hak nya sebagai manusia yang merdeka. Tidak ada orang tua yang ingin anak nya tumbuh sebagai pribadi yang pasrah ketika dirinya di eksploitasi dan haknya direnggut.

Begitu juga dengan sebuah organisasi atau kelompok, seperti negara, tidak ingin warga negaranya menjadi manusia yang lemah, yang diam ketika hak nya terjajah oleh bangsa lain. Jika mayoritas warga negaranya bersikap demikian maka kehancuran Negara tersebut sedang berlangsung.

Oleh karena itu, penting bagi orang  tua dan para pendidik di Negara ini untuk memberikan pendidikan yang menumbuhkan keberanian untuk mempertahankan hak dan menyampaikan kebenaran. Bukan pendidikan yang memperkenalkan pemaksaan hak dan pengabaian kebenaran, hingga mengakibatkan tumbuh banyak manusia – manusia yang berkepribadian lemah dan tidak berkepedulian.

Jika dahulu kita sering mendengar perkataan yang meremehkan seorang anak, seperti  “kamu masih bau kencur aja udah ngajarin orang tua !”. Atau perkataan “Anak kemarin sore, udah mau ngajarin orang tua”. Maka, pada zaman now  perkataan yang mengkencurkan tersebut, harus kita hancurkan jika tidak ingin potensi keberanian pada diri anak hancur.

Atau dahulu  kita juga sering mendengar pernyataan yang mengesampingkan hak anak, seperti, “anak – anak minggir, kasih orang tua dulu”. Atau saat sedang sholat berjama’ah seorang anak sudah berdiri dishaf terdepan, kemudian  dipaksa mundur kebelakang dengan pernyataan seperti itu. Maka, pada zaman now, kita singkirkan jauh – jauh pernyataan yang menyingkirkan hak anak tersebut jika tidak ingin anak – anak kita tersingkir dari era yang penuh dengan persaingan antar bangsa ini.

Karena pernyataan dan sikap tersebut dapat memberikan efek negatif terhadap pertumbuhan seorang anak. Seorang anak yang di didik dengan cara – cara negatif seperti itu akan tumbuh menjadi manusia yang tidak perduli dengan keadaan lingkungan nya, pasrah terhadap hak nya dan menjadi manusia yang pemaksa, serta  tidak memiliki empati, dan intoleren.

14 abad yang lalu. Seorang yang dimuliakan Alloh swt dan manusia – manusia yang beriman kepada Alloh swt sangat memuliakan nya, setiap perkataan dan perintah nya senantiasa di dengar dan di patuhi. Beliau lah Nabi Muhammad saw, memberikan teladan cara mendidik yang menghargai hak seorang anak dan menerima kebenaran yang datang dari seorang anak.

Sehingga setiap anak sangat mengidolakan beliau dan tidak ragu untuk mengutarakan sesuatu kepada beliau. Hingga mereka tumbuh menjadi pribadi – pribadi unggul yang membawa perubahan di seluruh penjuru dunia.

Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu’anhu  : Bahwasanya Rasulullah saw diberi minuman. Beliau minum. Sementara disamping kanan beliau duduklah seorang anak, dan di samping kiri beliau duduk orang – orang dewasa (Aturan memberi  sesuatu dimulai dari sebelah kanan). Beliau bersabda kepada anak itu, “Apakah engkau mengizinkanku untuk memberi  minum kepada mereka terlebih dahulu ?”. Dia menjawab, “Tidak, aku tidak akan memberikan bagianku darimu kepada siapapun”. Maka, Rasulullah saw meletakkan cawan itu di tangannya.

Perhatikan lah kisah tersebut, bagaimana seorang yang sangat dimuliakan meminta izin kepada seorang anak untuk memberikan hak nya kepada orang – orang dewasa. Padahal, bisa saja sebagai orang yang sangat di segani beliau langsung memberikan nya kepada orang dewasa tanpa perlu izin kepada anak itu. Tetapi hal tersebut tidak dilakukan nya demi menghargai hak seorang anak dan memberikan pendidikan kepada para sahabatnya tentang menghargai hak orang lain, meski pun kepada seorang anak kecil.

Dikisahkan juga, saat persiapan perang uhud, Rasulullah saw dihadang oleh seorang anak yang mengajukan protes kepada nya. “Wahai Rasulullah, engkau mengizinkan anak pamanku ikut berperang, sementara kalau aku bergulat dengannya, aku dapat mengalahkannya”. Maka Rasulullah saw mengizinkan mereka berdua untuk bergulat dan dia pun dapat mengalahkan anak pamannya itu. Maka akhirnya anak tersebut di izinkan Rasulullah saw untuk berperang membela Agama Alloh.

Teladan yang beliau berikan tersebut mengakar kuat pada kepribadian para sahabat nya. Hingga beliau wafat pun, hal tersebut telsh menjadi semacam tradisi dikalangan para sahabat. Di mana para sahabat beliau tidak berpikir lama untuk menerima kebenaran yang di sampaikan oleh seseorang yang masih berusia sangat muda dari mereka. Seperti yang dilakukan oleh Khalifah Umar radhiyallahu’anhu.

Diriwayatkan oleh Muslim bahwa  Abu Musa meminta izin untuk bertemu Umar sebanyak tiga kali. Tetapi, dia melihatnya sedang sibuk. Maka, dia pun pulang. Umar berkata, “Tidakkah kalian mendengar suara Abu Musa ?, Izinkanlah dia masuk”. Maka dia pun dipanggil, lalu Umar bertanya kepadanya, “Apa yang menyebabkanmu pergi ?”. Abu Musa menjawa,”Sesungguhnya kami diperintahkan (Rasulullah saw) demikian”. Umar berkata, “Kamu harus membawa bukti atas hal ini atau aku akan menguhukummu”.

Maka Abu Musa pun pergi menuju kumpulan orang – orang Anshar untuk meminta kesaksian atas perintah Rasulullah saw tersebut.  Mereka berkata, “Tidak ada yang bersaksi untuk orang ini selain orang yang lebih muda di antara kami”. Berdirilah Abu Sa’id dan berkata kepada Umar “Sesungguhnya kami diperintahkan demikian”. Umar berkata, “Perintah Rasulullah saw ini terlewatkan dari ku karena disibukkan oleh urusan pasar”.

Para generasi setelah sahabat Rasulullah pun mengamalkan sikap yang sangat menghargai hak seorang anak tersebut. Di kisahkan, pada suatu hari Abu Hanifah rahimahullah melihat seorang anak kecil sedang bermain dengan lumpur. Beliau katakan, “Hati – hati, jangan sampai terjatuh ke dalam lumpur”. Anak kecil itu balik berkata kepada imam agung ini, “Berhati – hatilah Anda dari terjatuh (salah dalam memberi fatwa), karena jatuhnya seorang ulama adalah jatuhnya seluruh dunia”. Mendengar perkatan ini, tubuh Abu Hanifah gemetar. Setelah mendengar nasihat dari anak kecil tersebut, beliau tidak lagi mengeluarkan fatwa kecuali setelah melakukan penelitian mendalam bersama murid – muridnya selama satu bulan penuh.

Setiap anak berhak untuk mempertahankan hak nya. Dan setiap anak juga berhak untuk menyampaikan kebenaran yang diketahui nya. Jika, orang tua dan para pendidik dapat menjaga dan menumbuhkan potensi tersebut maka kelak mereka akan tumbuh menjadi manusia baik yang dapat mengetahui kebenaran dengan terang dan tidak ragu untuk memperjuangkan nya, serta memiliki pendirian yang teguh  dan memiliki kepedulian terhadap hak – hak orang lain.

Maka, mulai saat ini. Ketika seorang anak tidak mau berbagi sesuatu yang di miliki nya kepada adik nya atau teman nya. Stop, menjadi orang tua ysng sok bijak dengan memaksa si anak untuk berbagi kepada anak atau teman nya.

Dan mulai saat ini. Katika dimasjid ada seorang anak yang berdiri di shaf terdepan, biarkan lah, karena itu adalah hak beliau. Jika tetap ingin meminta nya berpindah shaf, minta izinlah kepada anak tersebut sebagaimana Rasulullah saw meminta izin.

Dan mulai saat ini. Ketika ada seorang anak menyampaikan kebenaran. Stop, mengkencurkan dan meremehkan nya. Jika tidak ingin Negeri ini di penuhi oleh genarasi yang hancur pribadi nya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Asakir dan ad-Dailami dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu, ia berkata :Aku berkata kepada Nabi saw, “Ajarilah aku beberapa kalimat yang bersifat Universal dan bermanfaat”. Beliau bersabda “Beribadahlah kepada Alloh dan jangan engkau sekutukan Dia dengan sesuatu apa pun. Selalu berpeganglah dengan Alqur’an dalam kondisi apa pun. Terimalah kebenaran dari siapa pun yang membawanya, baik masih anak – anak atau sudah dewasa, walaupun kamu benci dan jauh. Tolaklah kebatilan dari siapa pun yang membawanya, baik masih anak – anak atau sudah dewasa, walaupun kamu cinatai dan dekat”

Wallahu’alam

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *