Puasa Hari Kesebelas ALLAH MAHA DEKAT

Oleh: Syamsul Yakin

Pengasuh Pondok Pesantren Putri Madinatul Qur’an Sawangan Kota Depok

Firman Allah SWT berikut ini sangat menggembirakan siapa saja yang membacanya, “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat” (QS. al-Baqarah/2: 186). Saatnya kita memperteguh sangka bahwa Allah SWT Maha Dekat dengan kita. Allah SWT hadir di antara kita.

Makna dekat atau dalam bahasa Arab disebut “qarib” itu, menurut Syaikh Nawawi Banten dalam Tafsir Munir, adalah bahwa Allah SWT dekat kepada manusia melalui pengetahuan dan respons-Nya. Pengetahuan Allah SWT melampaui segala sesuatu. Allah SWT tegaskan, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui” (QS. al-Baqarah/2: 30).

Mengenai Allah SWT dekat kepada manusia melalui respons-Nya, terdapat sebuah hadits yang menjelaskan hal ini. Misalnya, Nabi SAW bersabda, “Wahai manusia, tenangkanlah diri kalian. Sesungguhnya kalian tidak menyeru Dzat yang bisu dan tidak hadir. Sesungguhnya Dzat yang kalian seru Maha Mendengar lagi Maha Dekat” (HR. Bukhari).

Selain itu, Allah SWT berada lebih dekat kepada manusia ketimbang urat lehernya. “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya” (QS. Qaf/50 :16). Menurut pengarang Tafsir Jalalain, makna “urat leher” adalah dua urat vital yang ada di belakang leher.

Imam Jalaluddin al-Suyuthi dalam Lubab al-Nuqul fi Asbab al-Nuzul menuliskan riwayat tentang konteks sosio-historis turunnya surat al-Baqarah ayat 186. Abd al-Razaq meriwayatkan dari Hasan al-Bashri, dia berkata, “Beberapa orang sahabat bertanya kepada Rasulullah, “Di manakah Tuhan kita?” Lalu turunlah firman Allah surat al-Baqarah ayat 186.

Didapat riwayat dari Ibnu Jarir yang dikutip juga oleh Imam Jalaluddin al-Suyuthi, “Pada suatu hari seorang Arab Baduy mendatangi Nabi SAW dan berkata, “Apa Tuhan kita dekat sehingga kita cukup berbisik saat memohon kepada-Nya, ataukah Dia jauh sehingga kita perlu berteriak memanggilnya?” Rasulullah SAW terdiam lalu turunlah ayat tersebut.

Menurut Wahbah al-Zuhaili dalam Tafsir Munir, makna “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat” (QS. al-Baqarah/2: 186) adalah “Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang dekat atau juahnya diriku, maka jawablah bahwa Aku dekat dengan mereka”.

Menurut Wahbah al-Zuhaili, dekatnya Allah SWT kepada manusia itu berarti juga bahwa Allah SWT mengetahui keadaan mereka, mendengar ucapan mereka, dan melihat perbuatan mereka. Jadi “dekat” di sini bukan dekatnya tempat, tapi dekat dengan pengetahuan dan respons-Nya.

Para ulama salaf memandang, tulis Wahbah al-Zuhaili, kedekatan dan kebersamaan dengan Allah SWT yang disebutkan di dalam nash tidak bertentangan dengan ketinggian-Nya, sebab Allah SWT tidak serupa dengan benda apapun. Allah SWT itu, kata Imam al-Sanusi dalam Syarh Umm al-Barahin, adalah Mukhalafah li al-Hawadits (berbeda dengan semua makhluk).

Mari perkuat sangka bahwa Allah SWT itu Maha Dekat dengan kita. Karena dekat atau jauhnya Allah SWT tergantung sangka kita kepada-Nya. Nabi SAW bersabda, “Allah SWT berfirman, “Aku sesuai sangka hamba-Ku kepada-Ku” (HR. Bukhari-Muslim). Semoga Allah SWT senantiasa memberi perhatian, penjagaan, taufik, dan pertolongan untuk kita. Aamin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *