ALLAH MAHA MENGABULKAN DOA

Oleh: Syamsul Yakin

Pengasuh Pondok Pesantren Darul Akhyar Parung Bingung Kota Depok

 

Allah SWT memberi informasi bahwa ada dua syarat dikabulkannya doa, “Maka hendaknya mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku” (QS. al-Baqarah/2: 186). Dua syarat berturut-turut ini mencakup dua hal. Pertama, memenuhi ibadah badan. Kedua, memenuhi ibadah hati.

 

Makna, “Maka hendaknya mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku”, bagi Syaikh Nawawi Banten dalam Tafsir Munir adalah “Hendaklah mereka tunduk dan berserah diri kepada-Ku”. Sedangkan makna, “Hendaklah mereka beriman kepada-Ku”, menurut pengarang Tafsir Jalalain, adalah “(Hendaklah mereka) senantiasa beriman”.

 

Sedangkan secara keseluruhan, makna ayat, “Maka hendaknya mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku”, papar Ahmad Mushthafa al-Maraghi dalam Tafsir al-Maraghi, adalah, “Karena Aku (Allah SWT) selalu berada dekat dengan mereka, maka Aku mengabulkan doa mereka”.

 

Dalam menafsirkan ayat ini, Ahmad Mushthafa al-Maraghi juga menyebut dua syarat dikabulkannya doa. Menurutnya, “Tetapi dengan syarat, hendaklah kalian juga memenuhi perintah-Ku, dan beriman kepada-Ku (Allah SWT)”. Pertanyaannya adalah seperti apakah pengejewantahan kedua syarat itu?

 

Pertama, dengan melaksanakan ibadah badan dengan cara menundukkan badan, segenap raga, dan juga harta. Jenis ibadah ini, menurut Wahbah al-Zuhaili dalam Tafsir Munir dan Ahmad Mushthafa al-Maraghi dalam Tafsirnya, adalah shalat, puasa, zakat, dan haji. Kalau semua itu sudah ditunaikan, maka Allah SWT akan mengabulkan doa.

 

Kedua, dengan melaksanakan ibadah hati atau senantiasa beriman. Iman, bagi Wahbah al-Zuhaili, artinya ketundukan hati. Contoh seseorang yang berdoa yang disertai keimanan adalah sabar atau tidak tergesa-gesa. Sayyid Quthb menulis dalam Tafsir fi Dzilal al-Qur’an bahwa Allah SWT mampu mengabulkan doa pada waktu yang ditentukan-Nya secara bijaksana.

 

Tergesa-tergesa agar doa direpons dengan segera oleh Allah SWT justru membuat doa tersebut tidak dikabulkan. Nabi SAW bersabda, “Akan dikabulkan doa salah seorang dari kamu asalkan dia tidak tergesa-gesa, yaitu mengatakan, “Aku sudah berdoa, tetapi tidak juga dikabulkan” (HR. Bukhar-Muslim).

 

Secara lebih gamblang, Nabi SAW bersabda, “Akan senantiasa dikabulkan doa seorang hamba selama dia tidak berdoa dengan perbuatan dosa atau memutuskan tali kekeluargaan, asalkan dia tidak tergesa-gesa. Ada yang bertanya, “Wahai Rasulllah, apa yang dimaksud dengan tergesa-gesa itu?”

 

Rasulllah SAW menjawab, “Yaitu dia mengatakan , “Sungguh aku sudah berdoa, sungguh aku sudah berdoa, tetapi aku tidak pernah melihat doaku itu dikabulkan”. Lalu dia kecewa dan meninggalkan berdoa” (HR. Muslim). Nah, pertanyaanya bagi orang yang sedang berpuasa, kapankah waktu dikabulkannya berdoa?

 

Tentang hal ini Nabi SAW bersabda, “Orang yang sedang berpuasa memiliki doa yang mustajab pada waktu berbuka” (HR. Abu Daud). Oleh karena itu, tulis Sayyid Quthb, Abdullah bin Umar apabila akan datang waktu berbuka, ia memanggil isteri dan anaknya untuk berdoa bersama. Hari ini mari kita berdoa bersama keluarga kita saat berbuka puasa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *