ALLAH MAHA MENGABULKAN DOA

Oleh: Syamsul Yakin

Pengasuh Pondok Pesantren Putri Madinatul Qur’an Sawangan Kota Depok

Bulan puasa adalah bulan berdoa. Allah SWT mendeklarasikan diri, “Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa, apabila dia berdoa kepada-Ku” (QS. al-Baqarah/2: 186). Ayat di atas termasuk rangkaian ayat-ayat puasa. Karena pembicaraan tentang puasa Ramadhan secara historis dan normatif dalam surat al-Baqarah dimulai dari ayat 183-187.

 

Tujuan berdoa kepada Allah SWT, menurut pengarang Tafsir Jalalain, adalah agar seseorang mendapat apa yang dimohonkannya. Allah SWT tegaskan, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu” (QS. al-Mukmin/40: 60). Dalam ayat ini, menurutnya, cara berdoa adalah dengan melaksanakan ibadah.

 

Hal ini selaras dengan sabda Nabi SAW, “Doa adalah ibadah” (HR. Abu Daud dan Turmudzi). Maksudnya, semua ibadah itu adalah doa. Misalnya shalat, puasa, zakat, dan haji adalah doa. Seseorang yang membaca al-Fatihah hakikatnya sedang berdoa. Sebab ayat-ayatnya mengandung doa baik itu (berdoa) dengan cara memuji atau meminta.

 

Nabi SAW juga bersabda, “Doa adalah otak ibadah” (HR. Turmudzi). Bagi Syaikh Nawawi Banten dalam Tanqih al-Qaul, otak ibadah adalah inti ibadah. Menurutnya, doa dikatakan sebagai otak ibadah karena dua alasan. Pertama, karena berdoa hakikatnya mematuhi perintah Allah SWT sesuai ayat “Berdoalah kepada-Ku …” (QS. al-Mukmin/40: 60).

 

Kedua, lanjut Syaikh Nawawi, apabila doa seseorang dikabulkan oleh Allah SWT dalam berbagai urusan maka orang tersebut mengembalikanya kepada Alla SWT. Hal ini membuat dia tidak pernah sekalipun menggantungkan harapannya kepada selain Allah SWT. Sebab hanya Allah SWT yang dapat memenuhi kebutuhannya. Hal ini jadi ibadah paling fundamental.

 

Dalam kondisi mewabahnya korona, kita boleh mendesak Allah SWT dalam berdoa. Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah SWT mencintai orang-orang yang terus mendesak dalam berdoa” (HR. Hakim). Maksud hadits ini, menurut Syaikh Nawawi Banten, adalah orang itu tekun, kontinu dan ikhlas dalam berdoa.

 

Hanya saja, perlu diperhatikan agar saat berdoa seseorang harus memperhatikan tata kramanya. Menurut Syaikh Abdul Qadir al-Jilani, seperti dikutip Syaikh Nawawi Banten dalam Tanqih al-Qaul, minimal ada lima tata karma berdoa. Pertama, hendalah seseorang membentangkan tangannya. Kedua, didahului dengan memuji Allah SWT.

 

Ketiga, membaca shalawat atas Nabi SAW. Keempat, meminta kepada Allah SWT akan segala kebutuhannya dengan tidak memandang ke langit. Kelima, seusai memanjatkan doa hendaklah ia mengusapkan tangannya ke wajahnya. Nabi SAW bersabda, “Berdoa kepada Allah dengan (mengusapkan) bagian dalam telapak tangan kalian” (HR. Abu Daud).

 

Pada kesempatan lain, Allah SWT murka kepada orang yang tidak mau berdoa. Nabi SAW bersabda, “Siapa saja yang tidak mau berdoa kepada Allah SWT, maka Allah SWT akan murka kepada orang itu’ (HR. Ibnu Majah). Dalam sabda Nabi SAW yang lain, “Meninggalkan berdoa adalah suatu kemaksiatan” (HR. Thabrani)

­

Mari kita memperbanyak doa di bulan puasa karena doa orang yang berpuasa tidak ditolak. Nabi SAW bersabda, “Ada tiga orang yang doanya tidak ditolak, (salah satunya) orang yang berpuasa sampai dia berbuka” (HR. Turmudzi). Ibnu Athaillah al-Iskandari berkata dalam al-Hikam, “Ketika Allah SWT menyuruh kita meminta, Dia telah menyiapkan yang kita minta”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *