ALLAH MENGHENDAKI KEMUDAHAN

Oleh: KH. Dr. Syamsul Yakin

Pengasuh Pondok Pesantren Darul Akhyar Parung Bingung Kota Depok

Allah SWT berfirman, “Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu” (QS. al-Baqarah/2: 185). Ayat ini secara khusus, menurut Syaikh Nawawi Banten dalam Tafsir Munir, berarti Allah SWT memberi kemurahan berbuka puasa dan tidak mempersulit orang yang berpuasa dalam perjalanan.

Namun ayat ini, bagi Sayyid Quthb dalam Tafsir fi Dzilal al-Qur’an, berlaku secara umum untuk tugas yang dibebankan, bahkan dalam menjalankan kehidupan ini agar tidak membebankan diri dan mempersulit. Bagi kaum muslimin, konsep dalam ayat ini harus menjadi kaidah paling penting yang harus dipedomani.

Hampir semakna dengan ayat di atas adalah firman Allah SWT, “Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur” (QS. al-Maidah/5: 6). Begitu juga ayat, ”Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan” (QS. al-Hajj/22: 78).

Ayat ke-78 surat al-Hajj ini, menurut pengarang Tafsir Jalalain, artinya Allah SWT memberikan kemudahan kepada kalian dalam keadaan darurat, misalnya meringkas shalat, bertayamum, memakan bangkai, dan berbuka puasa bagi orang yang sedang sakit dan sedang melakukan perjalanan.

Secara terinci spektrum makna, “Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu” dapat dilihat dari sejumlah sabda Nabi SAW. Pertama, “Barangsiapa melapangkan seorang mukmin dari salah satu kesusahan dunia, maka Allah akan melapangkannya dari salah satu kesusahan di hari kiamat” (HR. Bukhari-Muslim).

 

Kedua, “Dan barangsiapa meringankan penderitan orang lain, maka Allah akan meringankan penderitaannya di dunia dan akhirat. Dan barangsiapa menutupi (cacat) seorang muslim, maka Allah akan menutupi (cacatnya) di dunia dan akhirat” (HR. Bukhari-Muslim). “Buatlah mereka gembira dan jangan buat mereka lari” (Bukhari-Muslim).

 

Ketiga, “Ya Allah, barangsiapa yang menjabat suatu jabatan dalam pemerintahan umatku lalu dia mempersulit urusan mereka, maka persulitlah dia. Dan barangsiapa yang menjabat suatu jabatan dalam pemerintahan umatku lalu dia berusaha menolong mereka, maka tolong pulalah dia” (HR. Muslim).

 

Keempat, dari Abu Hurairah, ia berkata, “Suatu hari kami duduk-duduk di dekat Nabi SAW lalu datang seorang laki-laki menghadap Nabi SAW. Laki-laki berkata, “Wahai Rasulullah, celaka aku”. Nabi SAW bertanya, “Apa yang terjadi padamu?” Laki-laki tadi lalu menjawab, “Aku telah menyetubuhi isteriku padahal aku sedang puasa”’.

 

Rasulullah SAW bertanya, “Apakah kamu memiliki seorang budak yang dapat kamu merdekakan?” Laki-laki itu menjawab, “Tidak”. Lalu Nabi SAW bertanya lagi, “Apakah kamu mampu berpuasa dua bulan berturut-turut?” Laki-laki tadi menjawab, “Tidak”. Lalu Nabi SAW bertanya, “Apakah kamu dapat memberi makan untuk 60 orang miskin?”

 

Laki-laki tadi juga menjawab, “Tidak”. Abu Hurairah berkata, “Nabi SAW lantas terdiam. Tatkala kami dalam kondisi demikian, ada yang memberi hadiah satu karung kurma kepada Nabi SAW. Lalu Nabi SAW bertanya, “Di mana orang yang bertanya tadi?” Lai-laki itu menjawab, “Ya, aku”.

 

Kemudian Nabi SAW berkata, “Ambillah dan bersedekahlah dengan ini (kurma)”. Laki-laki itu bilang, “Apakah akan aku berikan kepada orang yang lebih miskin dariku, Ya Rasulullah? Demi Allah, tidak ada yang lebih miskin di ujung Timur hingga ujung Barat kota Madinah dari keluargaku”.

 

Nabi SAW lalu tertawa sampai terlihat gigi taringnya. Kemudian Nabi SAW bersabda, “Berilah makanan tersebut pada keluargamu” (HR. Bukhari-Muslim). Nabi SAW telah mempraktikkan memberi kemudahan dan tidak mempersusah orang lain. Pertanyaannya, kemudahan apa yang telah kita perbuat untuk orang lain di bulan suci Ramadhan ini?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *